Tuhan, cinta dan jodoh (sebuah renungan ramadhan)

Cinta dan jodoh merupakan dua peristiwa yang sangat akrab sekali di dalam keseharian kita. Baik kita alami secara langsung maupun tidak. Tapi yang menarik dari dua peristiwa yang saling terkait tersebut adalah ketika hal itu dikaitkan dengan persoalan teologis; yang menurut saya soal cinta dan jodoh adalah murni urusan kemanusiawian kita, dan tidak ada kaitannya sama Tuhan.

Umpamanya, seseorang berjodoh dengan istrinya yang sekarang, itu memang atas dasar pertimbangan subjektifitas pribadi mereka. Artinya berjodoh-tidaknya dan baik-buruknya hubungan kedua pasangan tersebut ditentukan oleh ikhtiar dan sikap mereka sendiri. Jadi, tidak ada kaitannya dengan Tuhan, karena Tuhan sudah menuntun kita melalui pesan-pesan moral-Nya.Namun, dalam pandangan teologis umum kita menyatakan bahwa, “Jodoh itu sudah ada yang mengatur atau jodoh itu sudah ditentukan Tuhan!” Pertanyaannya kemudian, betulkah demikian? catatan kecil ini ingin mencoba me-share, sekaligus sedikit mendiskusikan hal tersebut.

Arti Cinta  

Cinta merupakan kata yang cukup singkat dan sederhana, namun sulit untuk kita definisikan. Kalau pun kita coba mendefinisikan, maka akan terjadi pereduksian dan pesimplifikasian makna cinta itu sendiri. Karena mendefinisikan adalah sebentuk upaya menjelaskan melalui kata-kata (erklaren), sedangkan cinta bukanlah sekedar kata-kata biasa, ia merupakan representasi dari kedalaman kompleksitas perasaan manusiawi sang pemilik cinta itu sendiri. Oleh sebab itu, cinta tidak dapat dijelaskan, tapi hanya bisa dipahami (verstehen). Sebaik apapun sebuah definisi, tetap tidak mampu mewakili totalitas kedalaman makna cinta. Ia hanya menjelaskan sebagian, tapi tidak keseluruhan, karena keseluruhan makna itu hanya bisa dihayati dan dipahami oleh pemiliknya.

Biarpun begitu, paling tidak, kata cinta sesungguhnya mensyaratkan dua subjek: yang mencintai dan dicintai atau yang dicintai dan mencintai. Kata cinta tidak bisa berdiri sendiri; ia mengandaikan dua subjek.Dengan kata lain, cinta berarti seseorang itu mencintai sekaligus ada pasangan yang dicintai.

Konsep Jodoh

Selain sebagai hewan rasional, kita manusia juga merupakan hewan berperasaan, dan salah satunya adalah “rasa atau perasaan cinta.” Rasa cinta adalah bagian dari kesadaran manusiawi kita. Karena ia merupakan bagian dari kesadaran kita, maka rasa atau perasaan cinta itu sendiri tidaklah datang atau jatuh begitu saja dari langit. Ia dipengaruhi sekaligus dikonstitusi oleh pengalaman personal kita, baik masa lalu, sekarang maupun yang tengah berjalan.

Dan, tiap pengalaman personal itu sendiri dikonstruksi oleh beragam faktor internal atau external; mulai dari  watak dasar, keadaan pysikologis maupun tingkat pendididkan, pergaulan serta lingkungan yang membentuk keseharian kita. Artinya, rasa dan perasaan cinta kita terhadap pilihan pasangan hidup kita syarat dengan pertimbangan-pertimbangan subjektif manusiawi, baik disengaja (berdasarkan pilihan sendiri) maupun tidak (dijodohkan); baik hal itu datang dari diri kita sendiri maupun atas dasar pengaruh atau desakan orang lain (baca: orang tua, saudara atau teman).  Pertanyaannya kemudian, bukankah terkadang kita berjodoh dengan orang yang kita tidak cintai atau dengan orang yang kita cintai tapi tidak berjodoh?

Betul, antara cinta dengan jodoh tidak selalu satu kata. Karena cinta belum tentu berjodoh, sebaliknya, berjodoh belum tentu cinta.Tetapi, tetap saja ketika kita memutuskan tuk menjadikan seseorang (laki/perempuan) sebagai pasangan hidup kita,faktor-faktor subjektifitas kita tidak bisa dilepaskan begitu saja. Ia tidak hanya memengaruhi, tapi juga menentukan siapa pilihan alias jodoh kita! Dengan kata lain, berjodoh tidaknya kita dengan seseorang yang kita cintai ataupun tidak adalah kita, manusia yang berakal dan berperasaan ini yang menentukan dan buka siapa-siapa, apalagi Tuhan.

Jodoh Bukan di Tangan Tuhan: Sebuah Penegasan akan Keesaan-Nya    

Tatkala kita sudah tidak cocok atau cinta lagi dengan pasangan kita, sering kali dengan enteng kita mengatakan bahwa dia (laki/perempuan) bukan jodoh kita. Bahkan, yang lebih naif dan parah lagi, ketidakberjodohan kita dengan pasangan kita  dengan segera kita katakan bahwa itu sudah suratan takdir dari Tuhan. Padahal, ketidak berjodohannya dia, semata-mata disebabkan oleh  dirinya sendiri.

Misal, karena sikapnya yang kurang baik atau kasar, ketahuan berselingkuh, memang sudah tidak cinta lagi karena jenuh dan sudah ada yang lain, atau bisa juga karena faktor orang tua, keluarga, teman yang memang tidak merestui hubungan cinta dua pasangan tersebut dengan beragam alasan yang melatarinya. Pertanyaannya kemudian, bukankah hal itu semua tidak ada kaitannya dengan Tuhan?! Bagaimana mungkin Tuhan membatalkan keterjodohan kita karena kita miskin, sedangkan pasangan kita kaya? Bagaimana mungkin, kita menjadi lelaki atau perempuan yang peselinkuh yang menyebabkan kita tidak berjodoh denganya karena takdir Tuhan? Betulkah Tuhan telah mentakdirkan orang baik dengan yang baik, sebaliknya jahat dengan yang jahat? Bukankah baik atau jahat adalah kita yang menentukan bukan Tuhan?

Jika kita cermati pertanyaan-pertanyaan di atas, akan menyadarkan kita bahwa persoalan jodoh adalah urusan pribadi kita sebagai anak manusia, dan bukan Tuhan! Hal itu dikarenakan, jika sedari awal Tuhan sudah menjodohkan kita dengan pasangan kita, maka itu sama saja kita mengatakan bahwa dua pasangan yang saling mencintai tidak jadi berjodoh dikarenakan si lelaki kalangan miskin, sehingga tidak mendapat restu dari pihak orang tua perempuan adalah takdir Tuhan? Jika demikian, Tuhan sungguh diskriminatif dan semena-mena! Tapi apakah mungkin Tuhan sejahat itu? Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang? Bukankah bagai Tuhan, semua hambanya pada hakikatnya adalah baik dan hanif? Jadi, pandangan teologis yang menyatakan bahwa jodoh itu di tangan Tuhan; itu sama saja telah mengembiri keilahian Tuhan Yang Maha Penyayang dan Adil! Tuhan hanya sebatas memebri tuntunan nilai-nilai moral kepda kita dalam hal memilih pasangan hidup, akan tetapi Tuhan tidak pernah menentukan siapa  jodoh kita! Baik-buruknya pasangan hidup kita itu berpulang pada “selera” kita masing-masing yang itu semua syarat dengan penilaian subjektif manusiawi kita. Tuhan tidak ikut camur sama sekali dalam artian “menentukan.” Tapi Ia hanya sebatas “menuntun.” Bahkan, tidak ada ayat Quran satu pun yang menyatakan secara eksplisit bahwa jodoh seseorang sudah ditentukan oleh-Nya. Tuhan hanya menerangkan perintah menikah, itu pun sesuai “selera” kita (ma thaba lakum), dan bukan “selera” Tuhan (baca: QS.4:3 dan 18:32). Kalaupun ada ayat yang menyatakan bahwa wanita yang keji adalah untuk laki keji dan sebaliknya, aya tersebut tidak ada kaiatannya dengan persoalan jodoh.Konteks sebab-turun ayat itu adalah sebagai teguran sekaligus peringatan serta dukungan moril bahwa Siti  A’isyah benar-benar bukanlah wanita yang keji dan tidak baik sebagaimana yang dituduhkan kepada dirinya (baca: QS. 18: 23-26).  Singkat kata, mereka yang menyatakan bahwa jodoh sudah ditentukan Tuhan adalah sangat lebay dan alay.com, demikian ujar anak sekarang…! wallahu a’lam

*tulisan ini, saya posting dari hasil tulisan teman saya Sahal Mubarok, yang saat ini ia sedang sibuk dengan tugas akhirnya (S2) 

Iklan
Categories: artikel lepas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: